Yayasan Adz dzikra Villa Galaxy

Kemandirian Bisnis Syariah…

KEMANDIRIAN BISNIS SYARIAH

Ketika Rasulullah saw berhijrah ke kota Yatsrib yang kini disebut kota Madinah, persaudaraan antara kaum  Anshar dan Muhajirin tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Hal ini dibuktikan dengan ketulusan seorang sahabat Anshar yang bernama Sa’ad bin Abi Rabi’ yang rela membagikan tanahnya kepada Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah saw dari muhajirin. Singkat cerita memang Abdurrahman bin Auf menolak dengan halus pemberian itu. Namun Abdurrahman bin Auf meminta kepada Sa’ad bin Abi Rabi’ untuk ditunjukkan pasar. kemudian Sa’ad bin Abi Rabi’ mengajak Abdurrahman bin Auf berjalan menuju pasar.

Abdurrahman bin Auf melihat ternyata pasar tersebut jauh dari apa yang beliau bayangkan dan diharapkan, sebab pasar tersebut sepenuhnya dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang berjualan tidak seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw selama ini kepada para sahabatnya. Praktik kecurangan dengan memainkan timbangan (tadlis) sering terjadi , menimbun yang mengakibatkan kelangkaan dan harga menjadi mahal (ihtikar), ketidak jelasan akad dalam transaksi jual-beli, ketidak jelasan kualitas dan kuantitas barang yang dijual (gharar) sudah menjadi satu hal yang biasa.

Melihat fenomena tersebut, Abdurrahman bin Auf mengajak Sa’ad bin Abi Rabi’ untuk melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari pasar, Abdurrahman bin Auf melihat sebidang tanah yang cukup luas dan menanyakan kepada Sa’ad bin Abi Rabi’, “kepunyaan siapakah tanah itu?” lantas Sa’ad bin Abi Rabi’ menjawab,”tanah itu kepunyaanku”. Kemudian Abdurrahman bin Auf berkata,”bolehkah aku mengelola dan menjadikannya pasar ?” “boleh, dengan senang hati”, jawab Sa’ad bin Abi Rabi’. Kemudian Sa’ad bin Abi Rabi’ melanjutkan ucapannya,”mari kita kelola bersama”.

Singkat cerita, tanpa membutuhkan waktu yang lama, pasar yang dikelola oleh kedua sahabat Rasulullah saw tersebut tumbuh dan berkembang mengalahkan pasar yang dikelola oleh orang-orang Yahudi tersebut. Selidik punya selidik ternyata kedua sahabat itu memberikan berbagai macam insentif kepada para konsumen dengan memberikan tambahan pada timbangan melebihi dari ukuran timbangan yang semestinya sebagai bentuk shadaqah, menurunkan harga suatu barang, yang sebelumnya melambung tinggi akibat praktik ikhtikar yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut di atas adalah Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Rabi’ ingin menunjukkan bagaimana semestinya bisnis syariah memiliki kepercayaan diri untuk tumbuh dan berkembang seiring dengan menumbuhkan mental kemandirian, yang selama ini belum terlihat karena mengingat bisnis syariah selalu diikuti bayang-bayang konvensional yang menjadi induk semangnya. Wajar jika bisnis syariah belum dapat keluar dari “five percent trap”.

Memang dikalangan masyarakat pemerhati ekonomi syari’ah, ada dua madzhab dalam menyikapi permasalahan ini, yaitu pertama menyatakan bisnis syariah harus mandiri tanpa meminta-minta insentif kepada pihak regulator untuk dapat bersaing dengan konvensional. Kalau memang realitanya produk syariah mahal mengingat cost oprasionalnya tinggi, maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meyakinkan kepada pihak konsumen kalau produk syariah itu memiliki kualitas yang tinggi pula. Dengan demikian logika konsumen akan mengatakan hal ini merupakan suatu kewajaran, sehingga semahal apapun produk syariah pasti akan dicari, karena memiliki kualitas yang baik dan terjamin.

Madzhab kedua berpendapat, bisnis syariah tidak akan mampu bersaing dengan bisnis konvensional, jika pemerintah tidak memberikan insentif dalam regulasinya. Karena konsumen selalu berfikiran produk syariah lebih mahal jika dibandingkan dengan produk konvensional. Padahal secara praktik tidak ada yang membedakan antara syariah dan konvensional, kecuali istilah bunga, maka di syariah disebut bagi hasil.

Kedua madzhab ini dapat kita ambil nilai positifnya yaitu bisnis syariah akan tumbuh berkembang jika semua pihak mendukungnya secara bersamaan, baik itu dari pihak penguasa, pengusaha, dan masyarakat. Dari penguasa menunjukkan dukungannya dengan membuat regulasi yang tidak memberatkan bagi pihak pengusaha untuk mengembangkan bisnis syariah, sehingga dengan demikian produk-produk syariah memiliki banyak varian yang berkualitas dan dapat ditawarkan kepada masyarakat konsumen dengan harga yang terjangkau.

Memang perlu diakui bahwa masyarakat konsumen sesungguhnya mempunyai dua type, type pertama masyarakat yang militan terhadap ajaran Islam, sehingga tidak memperdulikan apakah produk syariah itu mahal atau murah, baginya ada ketentraman jiwa ketika menggunakan produk syariah. Sedangkan type kedua sebaliknya tidak memperdulikan apakah itu syariah atau konvensional, yang penting murah, menguntungkan, banyak pilihan dan berkualitas.

Secara realita, masyarakat konsumen penganut type pertama tidak sebanyak masyarakat konsumen penganut type kedua, oleh karena itu jika bisnis syariah ingin tumbuh dan berkembang mengalahkan kedigdayaan bisnis konvensional, maka sasaran marketnya harus mengakomodir kedua type tersebut. Namun regulator dan otoritas pemberi fatwa juga tidak harus menerabas tujuan syariah (maqashidu syari’ah) demi mengakomodir type kedua dengan mencari tikungan atas dasar kaidah fiqih “asal mula mu’amalah semuanya diperbolehkan, kecuali ada dalil yang melarangnya” dan kaidah fiqih lainnya “kesulitan dapat menarik kemudahan”. Wallahua’lam bishawab   

 Penulis : Muhammad Musa ( (Ketua Yayasan Adz-Dzikra Villa Galaxy Bekasi)

Edisi Ilmu Syariah, artikel  sebelumnya :    Ekonomi Islam & keseimbangan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *