Yayasan Adz dzikra Villa Galaxy

Menjaga Keistiqamahan Nilai-Nilai Ramadhan

Puasa di bulan Ramadhan akan berdampak pada perubahan positif dan membawa maslahah bagi pribadi dan lingkungan sekitarnya, ketika dijalankan dengan benar sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dianalogikan pada puasanya ulat, yang semula apa saja dimakan, kemudian tiba suatu masa tertentu sang ulat harus berpuasa untuk bermetamorfosa melalui proses menjadi kepompong dan selanjutnya menjadi kupu-kupu yang indah dipandang mata dan membantu proses penyerbukan, inilah hakekat ketaqwaan yang dimaksud dalam Qs.Al-Baqarah [2]: 183.

Berbeda dengan puasanya ular, perubahan hanya tampak luar semata ketika akan berganti kulit, namun secara substansi perubahan itu tidak pernah ada. Ular akan tetap terus memangsa dan memakan siapa saja yang menjadi buruannya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,”Barang siapa yang harinya lebih baik dari hari kemarin, maka sesungguhnya dia telah memperoleh keberuntungan, barang siapa yang harinya sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya dia telah merugi, apa bila harinya lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya dia telah dilaknat”.

Hadits tersebut memang masih menjadi perdebatan di kalangan ulama’ hadits, sebagian ada yang mengatakan hadits tersebut lemah (dha’if) dan ada juga yang mengatakan hadits tersebut palsu (maudhu’). Tapi terlepas dari perdebatan itu, kita bisa mengambil hikmahnya yaitu perubahan yang sebenarnya adalah adanya peningkatan kualitas hidup bagi seorang mu’min.

Taqwa

Penjelasan para Ulama’ mengenai definisi taqwa adalah “menjalankan perintah Allah SWT (antara lain mengkonsumsi yang halal) dan menjauhi larangan-Nya (haram)”. Ramadhan merupakan madrasah yang mendidik seorang hamba untuk senantiasa dapat menahan diri (al-imsak) untuk bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan menahan diri untuk bersabar untuk dapat menjauhi segala bentuk yang dilarang oleh Allah SWT, apakah itu bersifat haram atau halal sekalipun.

Pada bulan Ramadhan, larangan tidak hanya pada yang haram saja, yang halalpun juga dilarang dalam batasan tertentu, yaitu larangan makan, minum, dan berhubungan suami-istri dari subuh hingga maghrib. Ini mempunyai hikmah sejauh mana ketaatan dan kecintaan seorang mu’min kepada Sang Pencipta, kemudian hikmah lainnya adalah sesuatu yang halal akan berdampak madharat jika dikonsumsi terus menerus dan berlebihan tanpa rehat. Oleh karena itu dalam satu tahun perlu ada satu bulan untuk rehat sebagai bentuk pemulihan organ-organ tubuh, antara lain organ pencernaan. Allah SWT mengingatkan “makan dan minumlah secukupnya dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (boros)” al-A’raf,[31].

Menahan dari yang halal, jika menggunakan pendekatan secara bahasa, halal berarti al-hillun yang artinya solusi. Maksudnya seorang mu’min yang senantiasa mengkonsumsi yang halal dan menjaga diri dari bersikap berlebih-lebihan terhadap yang halal, maka mu’min tersebut senantiasa akan memperoleh kemudahan dalam hidupnya, disamping itu juga akan memperoleh ridzki yang tidak pernah diduga. Sebagaimana yang telah allah SWT ingatkan dalam Qs.Ath-Thalaq [65]: 2-3. Dua hal tersebut merupakan buah ketaqwa seorang mu’min ketika konsisten menegakkan nilai-nilai puasa Ramadhan Qs. Al-Baqarah [2]: 183.

Menahan dari yang haram, jika menggunakan pendekatan bahasa bahwa kata haram akan berdampak pada al-hurumah yang artinya adalah kehormatan. Maksudnya jika seorang mu’min berupaya untuk menahan (al-imsak) diri dari yang haram, maka mu’min tersebut akan di dudukkan pada tempat yang terhormat (maqama mahmudah).

Lailatul Qadr

Lailatul qadr (satu malam di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, yang nilainya sama dengan seribu bulan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam Qs. Al-Qadr) merupakan impian bagi setiap mu’min yang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Lailatul qadr bukan merupakan keuntungan yang tidak dapat dinilai secara hitungan angka dan bersifat duniawi semata, akan tetapi lailatul qadr merupakan satu malam spesial dimana Allah SWT menurunkan para malaikatnya untuk memberi kabar gembira kepada hamba-Nya, yang mana dengan kabar gembira tersebut seorang hamba yang mu’min akan senantiasa optimis dalam menjalani kehidupannya dunia yang fana ini, sehingga tak ada lagi rasa takut dan sedih. Kabar gembira itu adalah surga yang telah dijanjikan oleh Allah SWT, yaitu sesuatu yang indah melebihi keindahan dunia.

Lailatul qadr akan diberikan, ketika nilai-nilai shaum Ramadhan terus ditegakkan secara konsisten (istiqamah) oleh seorang mu’min. Allah SWT telah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah dengan apa yang mereka ucapkan, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat [41]: 30). Ayat ini menjadi penjelasan (bayan) dari Qs. Al-Qadr [97].

Lailatul qadr bukan sekedar kebaikan yang senilai dengan seribu bulan, akan tetapi lebih dari itu. Kata seribu hanyalah merupakan perwakilan dari angka yang bernilai besar. Tapi ketahuilah bahwa Allah SWT Maha Luas dan Maha Kaya, yang tidak dapat dibatasi oleh ruang, waktu, dan angka. Satu contoh ketika seorang hamba yang istiqamah untuk menahan diri dari sikap yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu yang halal, melainkan secukupnya, selebihnya dishadaqahkan, maka tidak ada kesulitan bagi Allah SWT untuk melipatgandakan kebaikan shadaqah yang dilakukannya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Baqarah[2]: 261,”Perumpamaan bagi orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, bagaikan satu bulir yang tumbuh menjadi 7 bulir, yang setiap bulirnya tumbuh lagi menjadi seratus bulir, Allah akan melipatgandakan itu semua karena Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui”.

Seorang hamba yang telah memperoleh lailatul qadr, maka jiwanya tak lagi menjadi galau yang penuh dengan kesedihan dan ketakutan, tapi justru sebaliknya yaitu jiwa yang tenang (mut’mainnah). Hanya jiwa-jiwa yang tenanglah yang akan dipanggil dan disambut oleh Allah SWT, sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam Qs. Al-Fajr [89]: 27-30. Inilah rahasia yang sebenarnya mengapa lailatul qadr begitu diburu oleh orang-orang mu’min disetiap sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Fitrah

Setiap akhir Ramadhan, ketikan memasuki tanggal 1 Syawal, setiap kita pasti mengucapkan “selamat Idul Fitri dan Minal ‘aidin wal faizin”, yang diartikan secara bebas selamat kembali fitrah dan memperoleh kemenangan. Hal ini tidak salah, sebab fitrah manusia pada hakikatnya adalah kebaikan yang dilandaskan pada nilai-nilai Ilahiyah, yang tempatnya semula adalah surga. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Setiap kamu adalah ahli surga, kecuali bagi mereka yang enggan”. Kemudian para sahabat bertanya,”siapa yang engkau maksud enggan?” Kemudian Nabi SAW menjawab,”Barang siapa yang tidak taat kepadaku, dialah yang enggan

Jika seorang hamba menginginkan dirinya kembali ke surga, maka berprilakulah layaknya penduduk surga. Bulan Ramadhan adalah bulan kasih-sayangnya Allah SWT kepada hamba-Nya, segala bentuk kekhususan diberikan kepada hamba-Nya yang mu’min dengan melipatgandakan pahala setiap kebaikan yang dilakukan, membelenggu setan yang selama di luar bulan Ramadhan menjadi rintangan, menutup rapat-rapat pintu neraka, dan membuka lebar-lebar pintu surga.

Setelah kita membiasakan diri dengan perbuatan-perbuatan ahli surga selama dibulan Ramadhan, maka Allah SWT akan melihat keistiqamahan kita setelah berada di luar bulan Ramadhan. Ketahuilah keistiqamahan itu adalah amalan yang terbaik (Al-Mulk [67]:2), yang akan mendekatkan seorang hamba dengan surga dan singgasananya Allah SWT.

Wallahu a’lam bishawab

 

Muhammad Musa

(Ketua Yayasan Adz-Dzikra, Villa Galaxy Bekasi)

  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *